Minggu, 08 Mei 2011

Profil Kabupaten Jepara


Sejarah
          Dikisahkan Prabangkara, ahli pahat dan lukis masa Prabu Brawijaya melukis permaisuri prabu dalam keadaan tanpa busana tanpa melihat model permaisuri sendiri. Prabangkara dihukum dan alat pahat serta lukis diikatkan pada layang-layang yang kemudian akan diputus talinya. Tetapi, alat pahat Prabangkara jatuh di belakang Gunung Muria, tepatnya di Jepara dan satunya lagi di Bali. Penduduk Jepara akhirnya menggunakan alat tersebut untuk memahat kayu. Pada dasarnya, setiap kecamatan di Kabupaten Jepara merupakan daerah ukir. Dikarenakan Desa Senenan terletak pada jalur utama Jepara – Kudus yaitu maka menjadi daerah etalase dan industri kerajinan ukir meubel berkembang di sekitar Jl. K.H. Wachid Hasyim (Sesuai teori Weber yang menyatakan bahwa daerah industri mendekati daerah pemasaran).
          Desa Senenan juga dikenal sebagai sentra seni relief. Relief lahir sebagai bentuk perkembangan keahlian pengrajin terhadap seni ukir sendiri. Pengrajin mengembangkan keahliannya dengan membuat kreatifitas ukiran dengan bentuk cerita. Pada awal perkembangannya, seni relief bercerita tentang cerita pewayangan yang kemudian berkembang menjadi
          Pada waktu Jepara diperintah oleh Kanjeng Adipati, ditemukan seperangkat gamelan di pelataran pendopo Kadipaten Jepara.  Kanjeng Adipati mencoba membunyikan gamelan tersebut. Akan tetapi, gamelan tersebut tidak berbunyi. Pada saat itu, terdapatbudaya bahwa setiap tanggal 28 ( satu bulan sekali ) seluruh tokoh masyarakat di seluruh wilayah Jepara mengadakan Pisowanan Agung di Pendopo Kadipaten Jepara dengan membawa hasil bumi sebagai tanda hormat kepada Kanjeng Adipati Jepara. Ketika Pisowanan Agung tersebut berlangsung, Kanjeng Adipati mengumumkan bahwa telah ditemukan seperangkat gamelan yang dicoba dibunyikan tetapi tidak berbunyi. Kanjeng Adipati memberikan kesempatan kepada setiap tokoh masyarakat untuk membunyikan gamelan tersebut. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berhasil membunyikannya hingga akhirnya salah satu dari tokoh masyarakat tersebut berhasil membunyikan gamelan tersebut. Dikarenakan gamelan tersebut berhasil dibunyikan pada waktu Pisowanan Agung yang berlangsung pada Hari Senin, maka gamelan tersebut diberi nama Gong Senenan yang kemudian nama Senenan dipakai untuk member nama daerah asal tokoh masyarakat tersebut.
          Tradisi membunyikan Gong Senenan masih berlangsung hingga sekarang karena terdapat kepercayaan bahwa apabila Gong Senenan tidak dibunyikan maka akan terjadi bencana. Data menyebutkan bahwa pada tanggal 5 Mei 1955 di Laut dekat Pantai Kartini terjadi peristiwa tragis yang memakan 5 pejabat Kabupaten Jepara. Lalu pada 25 tahun yang lalu angin ribut memporak-porandakan Pendopo Kabupaten Jepara.
          Setiap satu tahun sekali, terdapat tradisi selamatan Gong Senenan yang dilakukan setelah Sholat Idul Fitri yang dihariri banyak  tamu undangan.
          Sentra Seni Relief
Terletak ± 3 km sebelum Alun-alun Kota tepatnya di Desa Senenan. Relief tidak kalah dengan industri ukir sendiri karena mampu menembus pangsa pasar internasional. Jumlah eksportir  Seni Relief sebanyak 23 pengusaha dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 360 orang dengan nilai produksi mencapai Rp3.678.913.681,00 dengan volume ekspor mencapai 1.318.500,50 kg ke 28 negara tujuan di Amerika, Eropa dan beberapa negara di Timur Tengah. Pasar lokal mayoritas didominasi konsumen dari Kota Jakarta, Surabaya dan Bali. (Promosi Potensi Kabupaten Jepara, 2009)

Perkembangan Kota dan Aktivitas Perkotaan
Pada awalnya aktivitas yang mendominasi Desa Senenan adalah aktivitas pertanian yang ditandai dengan banyaknya luasan areal persawaan. Akan tetapi, karena banyak penduduk yang migrasi ke Desa Senenan baik dari wilayah Kabupaten Jepara sendiri maupun dari luar Kabupaten Jepara mengakibatkan perubahan penggunaan lahan dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun.
Permukiman awal yang muncul berada di sepanjang jalur utama Jepara-Kudus mengikuti pola ruang kota bentuk pita : ribbon shaped city. Aktivitas industri dan perdagangan merupakan aktivitas yang dominan di Desa Senenan. Aktivitas perdagangan berada di sepanjang jalur utama Jepara-Kudus. Sedangkan aktivitas industri berada di belakang jalur utama tersebut. Permukiman di belakang jalur utama mulai berkembang karena jalur tersebut potensial untuk daerah perdagangan ukir meubel. Kemudian aktivitas industri berkembang setelah aktivitas perdagangan berkembang. Hal ini sesuai dengan teori Weber dimana lokasi industri mendekati lokasi pasar yaitu daerah etalase di sepanjang Jalur utama Jepara-Kudus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar